Sunday, February 10, 2008

Kayak Drugs Ya..

ditulis pada 9 Februari 2008


Saya sedang tidak fokus. Entah kenapa. Saat ini jam di PC saya menunjukkan pukul 11.19. Belum waktunya saya tidur memang, karena saya juga belum merasa mengantuk. Di hadapan saya ada setumpuk majalah Gogirl selama setahun, foto angkatan SMP saya, sepasang speaker PC, sebuah bolpen hitam dan tentu saja satu set PC.

Foto angkatan SMP..Hm..saya jadi teringat sesuatu. Atau lebih tepatnya seseorang. Ia berdiri tepat di bagian tengah foto. Orang pertama yang membuat saya patah hati. Haha..yah, begitulah..cinta masa lalu ngga akan pernah terlupakan.

Saya jadi teringat percakapan saya dengan seorang teman di YM tadi siang. Ia curhat tentang hubungannya dengan seorang cowok. Hubungan tanpa komitmen, tanpa status. Ya..mungkin sekarang orang menyebutnya TTM.

Skip the story, yang jelas saya agak emosi mendengar ceritanya dan segera menyuruh teman saya untuk meninggalkan TTM-annya itu. Lalu dia bilang, “susah ma..kalo kata di video klip-nya Letto sih, udah kayak drugs..”.

Saya sangat mengerti dengan apa yang dialami teman saya, karena hal itu juga pernah saya alami dengan cowok di foto angkatan SMP saya itu. Persis. (Ya..ngga persis-persis amat sih..). Dan itu berlangsung bertahun-tahun.

Sebut saja namanya Firman. Kami satu kelas saat saya duduk di kelas 2 SMP. Dia adalah cowok paling ganteng di kelas saat itu. Ralat, bukan ganteng, tapi cantik. Serius, wajahnya memang cantik, dengan bulu mata yang sangat lentik. Ditambah lagi saat itu umur kami masih sekitar 12-13 tahun, sehingga tampangnya saat itu juga masih seperti anak kecil. Berbeda dengan wajahnya saat ini yang kesannya sedikit lebih “laki”. (itu juga sedikit).;p.

Saat itu saya tidak tertarik dengan Firman, walaupun sewaktu baru naik ke kelas 2 dan kakak saya menanyakan siapa cowok paling ganteng di kelas saya tetap menyebut nama dia, tapi dalam hati saya sama sekali tidak pernah berpikir akan menyukai dia. Saat itu saya justru tertarik dengan cowok lain yang juga sekelas dengan kami, walaupun secara fisik ia masih kalah dengan Firman.

Justru teman sebangku saya yang ternyata menyukai Firman. Dia meminta saya untuk membantu menjodohkannya dengan Firman. Mulailah saya melancarkan aksi-aksi saya. Tapi sayangnya saya bukan mak comblang yang baik. Bukannya menyukai teman sebangku saya, dia malah membenci teman sebangku saya itu. Tapi, hubungan pertemanan saya dan Firman justru semakin akrab. Kami sering bercanda, karena Firman duduk di belakang saya. Awalnya saya yang sering menggoda dia, namun lama kelamaan dia pun berbalik dan lebih sering mengganggu saya.

Beberapa waktu berlalu. Saya pun berganti teman sebangku. Sampai pertengahan caturwulan 2 (waktu itu sekolah masih menggunakan sistem caturwulan. Jadul deh pokoknya..) saya masih belum tertarik juga dengan Firman. Saya masih keukeuh dengan gebetan saya yang saya sukai sejak awal kelas 2. Dari beberapa gosip yang beredar saya mendengar bahwa gebetan saya itu juga menyukai saya. Sayang, kami tidak sempat jadian. Kami hanya saling tahu kalau kami pernah saling menyukai.

Back to Firman. Saya ingat dengan jelas, tepat tanggal 15 November 1999(gile, hampir 9 tahun yang lalu tuh..) merupakan hari pertama saya mulai menyadari kalau saya menyukai Firman. Saya ingat betul karena hari itu adalah hari ulang tahun kakak saya ^_^. Saya yang biasanya jailnya setengah mampus di depan Firman, entah kenapa sejak hari itu selalu salah tingkah. Saya benar-benar tidak menyukai perubahan yang terjadi saat itu. Saya jauh lebih suka hubungan kami sebelumnya. Kami tidak pernah saling mengganggu lagi, terlebih karena saya memang menghindar. Bertepatan dengan itu wali kelas saya mengubah susunan tempat duduk di kelas kami. Saya pun duduk di barisan ujung kanan dan dia di barisan ujung kiri. Sempurnalah skenario Tuhan untuk menjauhkan kami berdua.

Di kelas itu saya punya seorang sahabat cowok. Sebutlah namanya Dewa. Saat saya kebingungan dengan perasaan dan perubahan sikap saya yang membuat saya jauh dengan Firman, Dewa menyarankan saya untuk ‘nembak’ Firman agar saya merasa lega. Awalnya saya menolak, “masa cewek nembak duluan”, pikir saya. Tapi dengan kemampuan provokasinya yang luar biasa, saya akhirnya terpengaruh dan memutuskan untuk ‘nembak’ Firman.

Dan disusunlah rencana penembakan dadakan di suatu sore saat seorang guru tidak bisa hadir sehingga jam pelajaran hari itu kosong. Dewa, yang merupakan otak dari rencana penembakan ini mengatur pertemuan saya dengan Firman. Tapi, ternyata Firman ini bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi resenya persis perempuan. Dia menolak untuk dibawa ke tempat saya menunggu dia, yaitu di depan perpustakaan (ceritanya kaya serial cantik ya?).

Tanpa sengaja, seorang pembuat onar dikelas mengetahui bahwa saya sedang menunggu Dewa di depan perpustakaan, walau sebenarnya saya sedang menunggu Dewa dan Firman. Entah mendapat ilham dari mana, ia langsung menyebar gosip kalau saya berencana menembak Dewa. Jadilah rencana hari itu menjadi ‘penembakan salah sasaran’ dan di kelas beredarlah gosip miring tentang saya dan Dewa. Untungnya, persahabatan saya dan Dewa tidak terganggu walaupun dia sempat agak marah karena image-nya sempat jatuh di mata gebetannya yang tidak lain adalah teman satu “gank” saya di kelas akibat gosip jadian saya dengan Dewa.

Tapi, walaupun rencana kali itu gagal, saya tahu Firman menyadari bahwa sasaran 'penembakan' sore itu sebenarnya adalah dia. Sikap saya semakin salah tingkah. Tapi di dalam hati saya berpikir saya akan melakukan apa saja untuk bisa kembali dekat dengan Firman.

Tahun ajaran pun berganti. Kami naik ke kelas 3. Berhubung kami berdua masuk 5 besar, kami berdua berhak untuk masuk kelas unggulan. Karena ada dua kelas unggulan, berarti kesempatan saya untuk satu kelas dengannya hanya 50%. Dasar mungkin memang saya tidak berjodoh dengan dia, kami pun masuk ke kelas yang berbeda. Tapi hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk tetap bisa berhubugan dengan dia (keukeuh banget ya, saya..'^_^). Ada saja usaha saya untuk bisa datang ke kelasnya.

Dasar anak SMP, kadang saya pun hingga saat ini tidak mengerti kenapa saya bisa melakukan hal-hal konyol pada waktu itu. Suatu hari saya mengirimkan surat untuk Firman. Saat itu saya sedang mengalami masalah keluarga, maka saya menceritakan masalah saya dan mengatakan bahwa saya membutuhkan seorang teman. Di dalam surat itu saya mengatakan, jika ia mau menjadi teman baik saya dan mau mendengarkan cerita-cerita saya, saya meminta dia untuk menelepon ke rumah saya hari itu juga. Sejak tiba di rumah saya menunggu telepon berdering, namun telepon itu tidak kunjung berbunyi. Akhirnya saya berpikir, seandainya ia tidak menelepon, saya akan menyerah dan tidak akan melakukan apapun untuk berusaha mendekati dia lagi.

Pukul lima sore, telepon rumah saya berdering. Jantung saya rasanya hampir berhenti saat itu juga. Saya pun mengangkat gagang telepon.
“Halo..” saya bisa mendengar suara saya agak bergetar.
“Halo, bisa bicara dengan Ima?”, dari seberang sana terdengar suara yang saya tunggu sejak tadi
“Iya..”
“Hei ma..saya udah baca suratnya. Sabar ya..”
“Kamu mau jadi temen deket ima?”
“Iya. Maaf ya selama ini saya jahat sama kamu..”
“Gak papa. Makasih ya..”
“Iya ma. Sabar ya..”
“He-eh”
“Udah dulu ya..”
“Iya..”

Yes! Rencana gw berhasil, pikir saya saat itu. Jurus terakhir saya untuk mendekatkan diri dengan Firman akhirnya berhasil. Sejak saat itu kami sering ngobrol di sekolah. Sering saling menelepon, dan dia dengan setia selalu mendengarkan cerita saya. Tapi, sekalipun saya tidak pernah mengarang cerita. Meskipun saya memanfaatkan keadaan keluarga saya saat itu untuk mendekati dia, semua cerita yang saya ceritakan adalah kondisi saya yang sebenarnya. Saya juga hanya bercerita saat saya merasa sudah tidak bisa memendam masalah saya seorang diri. Saya yang saat itu tidak boleh menelepon keluar lama-lama, seringkali meminta dia untuk menelepon balik, dan dia selalu menelepon balik.

Lama kelamaan, kami benar-benar bersahabat. Ia pun mau mengatakan kepada teman-teman sekelasnya bahwa saya adalah teman dekatnya. Bahkan ketika saya sempat jadian dengan teman sekelas saya, kami tetap sering berkomunikasi. Suatu hari, cewek yang ia sukai sejak lama, tiba-tiba jadian dengan salah satu teman dekatnya. Ia terlihat sedikit murung selama beberapa hari. Saya menawarkan diri untuk mendengarkan curhatannya, namun ternyata dia bukan tipe cowok yang bisa mengungkapkan isi hatinya dengan mudah. Tapi, lama kelamaan di sela-sela pembicaraan kami dia sempat mengungkapkan kemarahannya. Ia kecewa karena teman dekatnya sendiri mengkhianati dia. Tidak lama kemudian, saya mendengar gosip bahwa ia dekat dengan mantan pacar teman dekatnya yang kini berpacaran dengan cewek yang ia sukai. Khawatir ia merencanakan pembalasan dendam, saya mengkonfirmasi dan menanyakan kebenaran dari gosip tersebut. Ia meyakinkan saya bahwa dia tidak ingin balas dendam. Ia juga bilang bahwa seandainya nanti dia jadian dengan seorang cewek, itu karena dia menyukai si cewek , bukan karena balas dendam.

Beberapa bulan berlalu. Saya putus dengan pacar saya, dan jadilah kami sama-sama jomblo lagi. Kami lebih sering bertemu, lebih sering mengobrol di telepon, dan saya sedang dalam keadaan sangat bahagia dengan hubungan kami yang semakin dekat. Suatu hari, tepat sebelum shalat Jum’at, saya sedang mengobrol dengan seorang guru di depan aula sekolah. Tiba-tiba di hadapan saya dia muncul, berjalan mesra dengan seorang cewek. Cewek yang pernah digosipkan dengannya, yaitu mantan pacar teman dekatnya. Ia pernah meyakinkan saya bahwa dia tidak menyukai cewek itu. Lutut saya terasa lemas. Perasaan saya mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu antara mereka berdua. Namun tiba-tiba saya tersenyum. Saya pun langsung menggoda mereka.

“Cie..udah jadian ya..selamet ye..”

Mereka hanya senyum-senyum. Entah membaca pikiran saya atau apa, guru di hadapan saya berkata,
“Itu cuma sesaat kok. Mereka paling cuma sebentar. Dia jadian sama orang lain bukan berarti dia gak suka sama kamu. Akhirnya dia pasti balik lagi ke kamu,”

Rasanya ingin sekali saya mempercayai kata-kata guru saya. Tapi apa yang dilihat oleh mata saya rasanya jauh lebih nyata dari apa yang saya dengar. Saya memandang mereka. Firman berbalik menatap saya dengan tatapan penuh arti. Tapi saya tidak tahu apa artinya. Saya pun kembali tersenyum.

Saya berjalan ke arah kantin, mencari seseorang yang saya kenal. Mencari orang yang bisa meminjamkan bahunya untuk tempat saya menangis. Tidak ada siapapun karena sekolah sudah mulai sepi. Murid laki-laki sudah bersiap untuk shalat Jumat, dan murid perempuan satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing. Tiba-tiba saya teringat sebuah asrama mahasiswa di sekat sekolah tempat teman-teman se-gank saya sewaktu kelas 2 biasa bermain basket. Saya pun bergegas ke sana. Benar saja. Mereka ada di sana, dan mereka sudah mendengar apa yang terjadi. Gosip ternyata meyebar melebihi kecepatan saya berjalan. Apa yang terjadi persis sama dengan apa yang saya kira.

Air mata saya langsung tumpah saat itu juga. Pertama kalinya dalam hidup saya, saya menangis karena seorang cowok. Murni karena seorang cowok. Setelah tangis saya reda, salah satu teman saya mulai bercerita tentang apa yang telah dilihatnya.

Salah seorang teman saya yang bercerita saat itu, sebut saja namanya Tia. Ia melihat Firman dan teman-temannya di depan sebuah kantor pos besar yang terletak tidak jauh dari sekolah kami. Firman menyapa Tia. Di tengah cowok-cowok itu Tia melihat seorang cewek, sendirian. Tia mendengar isi pembicaraan mereka. Firman menembak si cewek.

Saya kembali lagi ke sekolah. Di sekolah saya bertemu dengan teman sekelas Firman. Ia pun bercerita. FYI, satu hari sebelum kejadian ini, saya sempat menemani Firman main bola di daerah Pusdai. Ternyata, menurut cerita teman saya, pagi hari sebelum mereka bermain bola, mereka membuat taruhan, jika tim Firman kalah, dia harus nembak cewek itu. Saya pun pulang dalam keadaan masih galau. Di dalam angkutan umum air mata saya tidak mau berhenti mengalir. Saya kira saat itu saya tidak akan sanggup bertemu dengan Firman lagi.

Keesokan harinya, ketika saya sedang keluar rumah, Firman menelepon. Ketika pulang ibu saya memberitahukan bahwa Firman menelepon, tapi saya tidak menelepon balik. Masih terasa rasa sakit di hati saya ketika mendengar namanya disebut. Tidak sampai 24 jam saya menahan diri untuk tidak menelepon Firman, hingga akhirnya saya menyerah dan meneleponnya.

“Ada apa Man?” saya berusaha agar suara saya terdengar setenang mungkin.
“Saya bingung, Ma..”
“Bingung kenapa?”
“Semua orang musuhin saya..karena saya nembak dia..”
“Lho, kenapa?”
Dia pun bercerita. Sebenarnya saya lupa masalah persisnya apa, tapi sebagian besar teman sekelasnya tidak menyetujui keputusan Firman karena menyangka Firman hanya main-main. Banyak pula yang berpikiran sama dengan saya, bahwa ini hanya aksi balas dendam Firman pada teman dekatnya. Dan ternyata si cewek belum menjawab. Tapi kini Firman menyesali pernyataannya sendiri. Ia ternyata tidak menyukai si cewek. Tiba-tiba saya teringat perkataan guru saya..ternyata apa yang dikatakannya benar.

“Kenapa kamu nembak dia?” saya bertanya tanpa bermaksud menginterogasi.
“Ngga tau..” nada bicaranya terdengar kebingungan
“Kalo kamu tarik pernyataan kamu gimana?” usul saya, sambil berharap dia mau menarik pernyataannya pada si cewek. (Ngarep..:))
“Ngga mungkin, Ma. Saya cowok. Mana ada cowok nyatain terus ditarik lagi…”

Saya berusaha bersikap layaknya seorang sahabat. Saya berusaha membuang jauh-jauh perasaan saya, termasuk rasa sakit yang tentu saja masih terasa. Keesokan harinya, si cewek menjawab iya dan mereka resmi pacaran. Namun, saat saya bertemu dengan Firman pada waktu istirahat dan menanyakan jawaban si cewek, ia hanya mengangguk dengan wajah kecewa.

Tetapi ternyata perkataan tak sejalan dengan perbuatan. Hubungan mereka berjalan lancar. Setidaknya pada 2 bulan pertama. Tidak jarang saya melihat mereka di kantin, bergandengan tangan dengan mesra, dan saat melihat mereka perut saya serasa disayat. Saya tetap berusaha bersikap bijak, tetap menyapa mereka dan berusaha menyembunyikan kecemburuan saya rapat-rapat. Namun ternyata keharmonisan itu tidak berlangsung lama. Hubungan mereka memburuk, Firman mulai mengabaikan ceweknya. As a friend, sesekali saya memberi advice pada Firman untuk tidak menggantungkan ceweknya.

Cewek Firman pernah mengancam saya untuk menjauhi Firman karena dia tahu bahwa saya pernah menyukai Firman, bahkan hingga saat itu. Usai Ujian Akhir (atau saat itu namanya EBTANAS) mereka putus karena si cewek mengkhianati Firman. Ia berpacaran dengan pacar sahabatnya yang masih teman sekelas mereka saat ia dan Firman masih berstatus pacaran.

Meskipun pertemanan kami tidak berubah. Ada yang berubah pada diri saya sejak saat itu. Saya jadi lebih pendiam dan tertutup. Entah apa yang terjadi pada diri saya, yang jelas Firman memberikan dampak psikologis yang besar pada diri saya selama bertahun-tahun. Dia menjadi seperti drugs untuk saya. (Bukan berarti ngga bisa sembuh kan, Tie?;) ).

Tibalah kami pada saat perpisahan sekolah, yang pada saat itu dilangsungkan di gedung SESKOAD di jalan Gatot Subroto (pulangnya saya sempat nyasar sampai Buah Batu loh, duh gak penting ya..). Saya diumumkan menjadi juara umum III di sekolah (maklum, satu-satunya prestasi yang signifikan jadi dibanggain terus^^). Saya bertemu Firman di luar gedung. Saat itu saya belum tahu kalau ia sudah putus dengan ceweknya. Dia tersenyum, dan mengatakan “Bagus ma..bangga punya temen kayak kamu..” Saat itu pula saya sadar bahwa perasaan itu masih ada.

Beberapa hari kemudian, ternyata pertemuan saya dengan dia di perpisahan itu membuat saya kembali tergoda untuk menelepon Firman. Selain itu, saya juga ingin menanyakan tentang hubungannya dengan pacarnya, karena ia pernah mengatakan pada saya bahwa dia akan memutuskan ceweknya setelah EBTANAS berakhir. Saya menelepon dia saat itu juga. Reaksinya ternyata jauh melebihi ekspektasi saya. Dia yang biasanya harus diminta untuk menelepon saya balik, saat itu malah menyuruh saya untuk menutup telepon dan mengatakan agar dia saja yang menelepon dari rumahnya.
“Kamu tutup aja ma, biar saya yang telepon ke situ..”
“Oh..ya..udah..” saya pun menutup telepon dalam keadaan bingung.
Meskipun kami belum lama dekat, saya bisa tahu kalau nada suaranya kali itu berbeda. Bukan nada suara Firman yang saya kenal. Bukan Firman sahabat saya. Mungkin karena sejak ceweknya menyuruh saya menjauhi Firman saya tidak lagi berhubungan dengan Firman. Dan itu sudah berlangsung hampir dua bulan. Suaranya terdengar agak berbeda.

Ia sempat terlihat sangat marah saat menceritakan tentang mantannya yang selingkuh dengan teman sekelas yang sangat ia percaya. Saya pun mencoba mengalihkan pembicaraan. Akhirnya obrolan kami tiba ke masalah SMA mana yang akan kami pilih. Saya tahu cita-citanya untuk masuk ke SMU 2 Bandung. Sedangkan saya sejak dulu memang ngotot ingin masuk SMU 5, dan dia tahu persis tentang hal itu. Saya sempat kaget mendengar dia tiba-tiba ingin masuk ke SMU 5.
“Kok tiba-tiba pengen masuk SMA 5?” tanya saya
“Pengen aja,”jawabnya
“Disuruh ortu?”
“Ngga. Kalo di SMA 5 kan deket sama kamu..”
Jreeeeng..cewek mana yang ngga geer digituin ama gebetannya, walaupun gebetannya itu adalah sahabatnya sendiri..
“Tapi Fir..” saya ragu-ragu untuk melanjutkan kata-kata saya.
“Kenapa?”
“Bapak nyuruh Ima masuk SMA 3. Ima ngga boleh masuk SMA 5 sama Bapak..”
“Ko gitu? Kamu pengen banget masuk 5 kan? Kamu kan belajar mati-matian biar bisa masuk 5..”
“Iya sih. Ng..tapi kalo ima masuk 3 kamu masih tetep mau masuk 5?”
“Ngga ah..kalo kamu ga masuk lima ngapain saya masuk lima. Kalo ngga ada kamu saya ngga mau masuk lima..”
Perasaan saya bercampur aduk. Saya kecewa sekaligus bahagia mendengar ucapan Firman. Tapi keputusan ayah saya saat itu sudah tidak bisa diganggu gugat. Saya ingin mencari cara agar dia tetap mau masuk SMU 5 meskipun saya masuk SMU 3. Toh kami tetap masih satu gedung sekolah.
“Kan masih satu gedung..yah..”bujuk saya. Dia masih menolak.
Sebelum pembicaraan kami selesai, ibu saya menghampiri. Beliau mengingatkan saya untuk mengakhiri obrolan kami karena kami sudah mengobrol cukup lama di telepon.
“Ya udah, besok malem saya telepon lagi ya..” janjinya
“Janji?” tanya saya
“JANJI..” tandasnya dengan penuh keyakinan.

Malam selanjutnya saya menunggu telepon dari Firman. Tapi telepon bahkan tidak berdering hari itu. Untuk kedua kalinya saya merasa kecewa.

Akhirnya kami masuk SMA. Saya masuk SMA 3 dan Firman di SMA 5. Seperti semacam takdir, kelas dia berada tepat di belakang kelas saya dan kami bertemu hampir setiap hari.

Kami sering pulang bareng, karena kami menunggu angkutan umum di tempat yang sama.
Kami sempat nonton film AADC berdua. Saat itu saya tidak tahu bahwa itulah terakhir kalinya saya pergi berdua dng Firman. Beberapa minggu setelah nonton AADC, Firman menjauh lagi. Tanpa alasan. Sama ketika ia tidak menepati janjinya untuk menelepon saya. Bahkan kali ini lebih parah. Firman menghindar. Ia bersikap seolah saya adalah pengganggu untuk dia. Kami sempat bertengkar. Saya bilang kalau saya tidak akan pernah mengganggu dia lagi. Dia tidak menjawab. Saya pergi dan dia tetap tidak bergeming.

Saya kembali meradang. Hampir setiap pagi saat saya turun dari angkutan umum kami bertemu di depan gerbang utama Belitung 8, yang merupakan pertengahan antara SMA 3 dan 5. Tapi saya harus bersikap seolah tidak mengenal dia. Ia pun bersikap sama. Dua bulan kami tidak saling sapa. Hingga suatu hari secara tidak sengaja saya melihat dia melintas di depan kelas saya, memandang saya dan tersenyum. Saya pun luluh lagi.

Kami dekat lagi. Saya pun kembali bergantung pada dia. Kelas 2 SMA keluarga saya mulai bermasalah lagi. Dan saya hanya punya satu sahabat di dekat saya, yaitu dia. Tapi dia kembali memperlakukan saya penuh penolakan. Lagi-lagi tanpa alasan. Padahal saat itu saya benar-benar sedang membutuhkan pegangan, seorang sahabat. Tapi ia terus menghindar.

Di akhir kelas 2 SMU, akhirnya saya tahu alasan Firman beberapa kali menjauhi saya. Ternyata, pada saat Firman mengingkari janjinya untuk menelepon saya, itu merupakan permintaan dari kakak saya sendiri. Beberapa jam sebelum Firman seharusnya menelepon saya, kakak saya menelepon Firman terlebih dahulu. Kakak saya meminta dia untuk tidak memberi saya harapan jika suatu saat nanti Firman akan menyakiti saya lagi. Dan itulah yang terjadi, setiap Firman menyadari bahwa kami tidak akan pernah lebih dari sekedar sahabat atau mulai menyukai seorang cewek, dia teringat dengan kata-kata yang diucapkan kakak saya. Dan dia pun memilih untuk menjauh.

Namun, entah apa yang membuat perasaan saya kepada dia saat itu tidak pernah hilang. Seburuk apapun perlakuannya, saya tetap menyukai Firman. Sejauh apapun Firman menghindar, saya selalu berusaha untuk mendekat. Hingga pada saat kenaikan kelas 3, saya memutuskan untuk mengungkapkan perasaan saya. Dan ‘beruntungnya’, saat itu dia berencana untuk menembak seorang cewek, teman sekelasnya. Bukannya mengungkapkan perasaan saya, saya malah mendengarkan dia curhat tentang cewek yang saat itu dia sukai. Berapa kali lagi saya harus merasakan hal seperti ini dengan cowok yang sama, pikir saya.

Akhirnya di kelas 3 SMA saya berhasil lepas dari bayang-bayang Firman. Saya menyukai cowok lain. Lulus SMA, kami lagi-lagi masuk ke satu gedung yang sama. Kami sama-sama masuk ITB. Kami dekat lagi. Walaupun sikapnya masih sama seperti dulu. Kadang perlakuannya juga secara tidak langsung membuat saya merasa bodoh. Sikapnya sering membuat saya merasa tidak berarti. Tapi tidak jarang dia memberikan semangat di saat saya jatuh. Memberi ketenangan di saat saya merasa galau.

Entah sejak kapan, perlahan-lahan kami mulai jarang bertemu. Padahal jurusannya terletak tidak jauh dari jurusan saya. Kesibukan kuliah, teman baru, juga munculnya cowok-cowok baru dalam hidup saya membuat saya perlahan-lahan lupa akan adanya dia. Tapi, hingga pertengahan tahun lalu pun saya belum bisa lepas dari dia sepenuhnya. Saya terkadang masih meng-SMS dia saat saya tidak tahu lagi harus ke mana. Saat semua masalah sudah tidak sanggup lagi saya tampung sendiri, saya terkadang masih teringat dia.

Pernah suatu kali saya menemukan satu missed call di HP saya dan ternyata panggilan itu berasal dari nomornya. Khawatir ada sesuatu yang penting, saya menanyakan tentang telepon yang tak terjawab itu lewat SMS, dan ternyata balasannya hanya berbunyi,
“Gpp, gw cm liat lo jln d dpn jurusan. Pgn manggil aja..”.
Saya pun hanya tersenyum.
Seperti itulah kami saat ini, hanya dua orang “sahabat” lama yang berkomunikasi hanya jika kami punya waktu untuk saling mengingat satu sama lain. Bahkan mungkin kami hanya saling mengingat jika salah satu dari kami muncul di depan yang lainnya. Saya kadang hanya ingat dia jika saya melihat dia duduk di depan himpunannya saat saya lewat. Sama seperti saat dia mengingat saya ketika saya melintas di depan gedung jurusannya.

Alhamdulillah, saat ini saya sudah bisa benar-benar lepas darinya. Saya saat ini menganggap dia adalah seorang teman lama yang masih punya tempat saat saya mengingat masa lalu. Tapi dia bukan bagian dari hidup saya lagi. Dia pernah jadi drugs untuk saya, but now I’m not an addict anymore. I’ve been addicted, but I’m recovered. Saya berhasil lepas dari dia. Walaupun kadang seluruh cerita ini masih bisa saya rasakan dalam hati saya. Tapi saya tahu saya telah ‘sembuh’. Beberapa kali saya bertemu dengan dia, and I feel nothing, bahkan tidak ada sedikitpun rasa sakit atau kemarahan yang dulu terkadang masih terasa.

Lebih dari 5 tahun saya menjadi seorang ‘addict’. Tapi saya bisa membuktikan kalau saya bisa ‘sembuh’. Saya tahu saya bukan satu-satunya orang yang mengalami hal ini. Dan untuk semua perempuan yang pernah atau sedang mengalami hal yang sama, saya tahu mereka bisa lepas. Just fill urself up with confidence. U deserves to be loved. A man is made to protect u, to love u, not to make u feel unworthy. Show that u can. That u can stand alone. Yeah, u can be strong without them. There’s a lot of people who loving u. Just don’t think that u’re alone in this world. U’re never really alone. Because God always right here and there.

6 comments:

Sannya A. Nurbanyeva said...

kek-nya gw tau niih

ma, panjang amatt...

well, gw stuju, itu drugs ;)

imamura said...

hehe..jangan bilang siapa2 y..(trus gw post gt di blog..;D)

sebenernya kebilang pendek sih kalo buat nyeritain kejadian selama 7 taun..tapi takut mata yang baca keburu jereng ^_^

Nurul said...

Kebetulan baca..dah kayak cerpen aja..;p
Hmm..banyak kok cw yang merasa 'addict' dan berusaha lepas pake logika dan bukan pake perasaan,hoho..

imamura said...

mungkin karena cowok juga lebih banyak pake logika y, jadi buat lepas dari mereka kayaknya harus pake logika juga..hue..
hm..i know one..

imamura said...

untung aja ya saat2 tertentu (kalo udah sadar) logika cewe bisa jalan lagi. Kalo lagi addict biasanya logika ga bisa jalan..;p

icha said...

dan saat ini logika saya lagi gak jalan. * oops, shhhsssttt! ;) *